Menu ✖

Mode Gelap
 

Opini

Di Tengah Banjir Informasi dan Disrupsi Teknologi, Fachrul Idris Serukan Jurnalis Tetap Berpijak pada Fakta


 Di Tengah Banjir Informasi dan Disrupsi Teknologi, Fachrul Idris Serukan Jurnalis Tetap Berpijak pada Fakta Perbesar

MAKASSAR, SuaraRepublik– Teknologi berkembang semakin cepat. Informasi bisa berpindah dari satu layar ke layar lain hanya dalam hitungan detik. Media sosial bahkan kerap menjadi tempat pertama masyarakat mengetahui sebuah peristiwa.

Di tengah perubahan tersebut, tantangan jurnalis bukan lagi sekadar mendapatkan informasi, melainkan memastikan informasi yang disampaikan kepada publik benar, terverifikasi, dan memiliki konteks.

Pesan itulah yang ditekankan Redaktur Utama Media Online Nasional SuaraRepublik.biz.id, Fachrul Idris, kepada seluruh jajaran jurnalis SuaraRepublik yang bertugas di Sulawesi Selatan.

Fachrul mengingatkan bahwa kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi di media sosial tidak boleh membuat jurnalis kehilangan prinsip dasar jurnalistik. Kecepatan, menurutnya, harus tetap berjalan beriringan dengan ketelitian, etika, keberanian, dan tanggung jawab kepada publik.

Pesan tersebut disampaikan sebagai bagian dari penguatan internal jajaran SuaraRepublik sekaligus komitmen untuk mempertahankan eksistensi media yang berpusat di Makassar tersebut di tengah persaingan industri media yang semakin dinamis.

Dalam arahannya, Kamis (18/9/2026), Fachrul menitipkan empat pesan penting kepada para jurnalis SuaraRepublik di Sulawesi Selatan.

Teknologi Boleh Cepat, Jurnalis Tetap Harus Beretika

Era digital membuat siapa pun dapat memproduksi dan menyebarkan informasi. Kamera ponsel, platform media sosial, grup percakapan, hingga berbagai teknologi berbasis kecerdasan buatan telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi.

Namun, menurut Fachrul, kemudahan teknologi tidak serta-merta menjadikan setiap informasi sebagai berita.

Jurnalis tetap memiliki tanggung jawab untuk melakukan verifikasi, mengonfirmasi informasi kepada pihak terkait, serta memastikan fakta yang disampaikan kepada publik dapat dipertanggungjawabkan.

Karena itu, ia meminta jurnalis SuaraRepublik di Sulsel tetap menjunjung tinggi kearifan lokal dalam menjalankan profesinya, khususnya prinsip Sipakatau, Sipakalebbi, dan Sipakainge.

“Kita orang Sulsel, jaga adat dan etika. Sopan dalam bertanya, tapi tegas dan berani dalam menulis kebenaran,” ujar Fachrul.

Bagi Fachrul, perkembangan zaman seharusnya tidak menghilangkan karakter jurnalis. Justru ketika informasi semakin mudah diproduksi dan disebarkan, integritas menjadi semakin penting.

Jangan Jadikan WhatsApp dan Media Sosial sebagai Sumber Tunggal

Derasnya informasi di media sosial juga menjadi tantangan tersendiri bagi dunia jurnalistik.

Sebuah informasi dapat viral sebelum kebenarannya diketahui. Dalam situasi seperti itu, jurnalis dituntut tidak sekadar menjadi pihak yang ikut menyebarkan informasi, tetapi menjadi pihak yang memeriksa dan menjelaskan fakta di balik informasi tersebut.

Fachrul karena itu meminta para jurnalis SuaraRepublik tidak pasif dan tidak hanya mengandalkan informasi dari grup WhatsApp.

Ia mendorong timnya untuk turun langsung ke lapangan, menemui narasumber, mengumpulkan data, melakukan konfirmasi, dan melihat langsung persoalan yang terjadi.

“Sulsel adalah gudang berita nasional. Jangan hanya menunggu informasi dari grup. Turun ke lapangan, cari fakta dan lakukan konfirmasi,” pesannya.

Menurutnya, teknologi seharusnya menjadi alat bantu bagi jurnalis untuk mempercepat kerja, bukan menggantikan proses jurnalistik.

Tantangan Jurnalis Bukan Hanya Kecepatan, tetapi Akurasi

Di era media sosial, kecepatan sering menjadi ukuran popularitas sebuah informasi. Namun bagi kerja jurnalistik, kecepatan tanpa akurasi dapat menimbulkan persoalan baru.

Satu informasi yang keliru dapat menyebar jauh lebih cepat dibandingkan proses koreksinya.

Karena itu, Fachrul meminta jurnalis SuaraRepublik memahami perubahan ekosistem media tanpa meninggalkan prinsip dasar profesi.

Jurnalis harus mampu memanfaatkan teknologi untuk mencari data, memantau perkembangan isu, mengidentifikasi informasi awal, sekaligus memperluas jangkauan pemberitaan. Namun keputusan untuk menjadikan sebuah informasi sebagai berita tetap membutuhkan proses jurnalistik.

Dengan kata lain, media sosial dapat menjadi pintu masuk informasi, tetapi bukan alasan untuk mengabaikan verifikasi.

Soliditas Jajaran Jadi Kekuatan di Lapangan

Pesan berikutnya berkaitan dengan soliditas internal.

Fachrul meminta seluruh jurnalis SuaraRepublik di Sulawesi Selatan menjaga komunikasi, kebersamaan, dan loyalitas dalam menjalankan tugas.

Ia menegaskan akan berada di garda terdepan apabila ada anggota tim yang menghadapi persoalan atau intimidasi saat menjalankan tugas jurnalistik.

“Jangan ada dusta di antara kita. Jika ada masalah, hadapi bersama. Saya di Makassar, saya tidak akan biarkan anggota saya jalan sendiri,” tegasnya.

Soliditas tersebut dinilai penting karena tantangan jurnalis di era digital tidak hanya muncul dari lapangan, tetapi juga dari derasnya arus informasi dan perubahan pola konsumsi berita masyarakat.

Angkat Potensi Sulsel, Tetap Kritis terhadap Persoalan Publik

Fachrul juga meminta para jurnalis tidak hanya berorientasi pada pemberitaan konflik atau peristiwa yang viral.

Sulawesi Selatan memiliki berbagai potensi yang menurutnya perlu mendapatkan ruang pemberitaan. Potensi ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, sumber daya manusia, hingga berbagai perkembangan daerah dapat menjadi bahan pemberitaan yang memberikan perspektif positif kepada masyarakat.

Namun, mengangkat potensi daerah tidak berarti menghilangkan fungsi kontrol sosial media.

Fachrul meminta jurnalis tetap kritis terhadap berbagai persoalan yang menyangkut kepentingan publik, termasuk mengungkap dugaan penyimpangan atau tindakan oknum yang merugikan masyarakat berdasarkan fakta dan data yang dapat diverifikasi.

Di titik inilah, menurutnya, jurnalis tetap memiliki peran yang berbeda dengan pengguna media sosial biasa.

Dari Makassar untuk Panggung Nasional

Di tengah perubahan lanskap media, Fachrul menyatakan kebanggaannya terhadap jajaran SuaraRepublik yang bertugas di Sulawesi Selatan.

Ia berharap media yang lahir dan berpusat di Makassar tersebut mampu memperkuat kualitas pemberitaan sekaligus memperluas jangkauan hingga tingkat nasional.

Menurutnya, persaingan media di era digital tidak cukup dimenangkan dengan kecepatan. Kepercayaan pembaca menjadi modal yang harus dibangun melalui konsistensi, akurasi, etika, dan keberanian mengangkat fakta.

“Saya bangga memiliki tim di Sulsel. Mari kita buktikan bahwa media yang lahir dari Makassar mampu bersaing di kancah nasional,” ujarnya.

Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa di tengah teknologi yang terus berubah, media dan jurnalis tetap memiliki pekerjaan mendasar: mencari fakta, memeriksa kebenaran, dan menyajikan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.

Dengan semangat tersebut, Fachrul mengajak seluruh jajaran SuaraRepublik menjaga profesionalisme dan membuktikan tagline media tersebut: “Berita Utama, Fakta Nyata.”

Artikel ini telah dibaca 52 kali

Share via
Copy link