Bulukumba | SuaraRepublik — Bagi mereka yang saban hari mengetuk pintu rumah sakit, cemas adalah kawan karib. Di balik koridor beraroma antiseptik, setiap rupiah yang dikeluarkan dipertaruhkan demi satu hal: kesembuhan anggota keluarga. Namun di RSUD Sulthan Daeng Radja Bulukumba, Sulawesi Selatan, rasa cemas itu kini mendapat beban tambahan dari gerbang masuk parkir.
Bukan soal tak mau bayar, melainkan lonjakan tarif dan perubahan akses yang dinilai menggerus isi dompet warga. Gelombang keluhan ini memuncak dan ramai diperbincangkan di platform media sosial Facebook, di mana sebuah unggahan mengenai kondisi parkir rumah sakit telah dibagikan sebanyak 35 kali dan memancing ratusan tanggapan netizen.
Rute Memutar, Tarif Melonjak

Perubahan tata kelola dan akses masuk di area RSUD Bulukumba memicu riak keresahan. Selain rute masuk yang dianggap terlalu jauh memutar, biaya parkir berdurasi beberapa jam meroket tajam dibanding skema lama.
Melalui kolom komentar unggahan Facebook tersebut, warga bernama Waty Cueeq (diunggah 12 jam lalu dari tangkapan layar) menceritakan kontrasnya tarif parkir yang ia rasakan. Sambil membandingkan pengalaman terdahulu, ia menyoroti membengkaknya pengeluaran harian.
“Sebelum berubah i pintu masuknya biasa masuk pagi keluar sore na 4rb an ji na ini dende beberapa jam ji na 15 rb… weee kereennn mintong rs bulukumba dende… sanna keren na,” keluhnya dalam dialek lokal.
Bagi masyarakat yang datang sekadar untuk kontrol jalan atau mengantar resep obat, lamanya waktu tunggu di RSUD acap kali membuat durasi parkir tak terhindarkan hingga sore hari.
Pengguna Facebook lainnya, Darmawati Darma (diunggah 22 menit lalu dari tangkapan layar), menegaskan hal serupa. “Betuul, yg meresahkm itu byr parkirannya kadang baru sejam lewat sdh bayar 4000. Apalagi kalau pergi kontrol kadang sampai sore,” tulisnya.
Dilema Penjenguk dan Pasien Rawat Inap
Kondisi makin pelit bagi keluarga pasien yang harus menginap berhari-hari. Pilihan memarkirkan kendaraan di dalam area rumah sakit berisiko menyerap anggaran yang seharusnya bisa dialokasikan untuk kebutuhan medis atau konsumsi harian.
Netizen lain, Sulfiani M (diunggah 1 jam lalu dari tangkapan layar), ikut membagikan sudut pandangnya mengenai beban biaya penunggu pasien. “In this economy.. susah boyanna doe’ka (susah cari uang),” ungkapnya sambil menyarankan agar ada skema pendaftaran paket khusus bagi pasien rawat inap.
Sebagian warga akhirnya mengambil jalan pintas: memarkirkan kendaraan di luar area resmi rumah sakit demi menekan pengeluaran, meski harus berjalan kaki lebih jauh. Hal ini diakui oleh Ceny Kasim (diunggah 12 jam lalu dari tangkapan layar) yang memilih parkir di luar karena rute masuk yang dianggap terlalu berputar.
Sementara itu, Al Furqon Taufik (diunggah 12 jam lalu dari tangkapan layar) mempertanyakan empati pengelola. “Knp ada rumah sakit mempersulit parkir dgn harga mahal, na orang sakit dan keluarganya pasien semuaji didalam yg butuh uang untuk biaya berobat,” kritiknya.Isu keterjangkauan ini lantas memicu sindiran pedas dari warganet yang menilai fokus pelayanan publik bergeser dari misi kemanusiaan menjadi sekadar hitung-hitungan bisnis. Akun Uman Puang Saddu (diunggah 1 jam lalu dari tangkapan layar) menulis singkat, “Bisnis parkir di utamakan.”
Menagih Empati Pelayanan Publik
Fasilitas kesehatan milik pemerintah daerah sejatinya merupakan perlindungan terakhir bagi warga yang sedang diterpa musibah. Ketika aspek penunjang seperti parkir justru menjadi pemicu beban finansial baru, empati institusi medis dipertanyakan.
Masyarakat berharap pihak pengelola RSUD Sulthan Daeng Radja bersama Pemerintah Kabupaten Bulukumba tidak menutup mata. Evaluasi alur masuk serta penyesuaian tarif yang berpihak pada pasien rawat inap maupun jalan amat dinantikan—agar rumah sakit kembali menjadi tempat penyembuhan, bukan ladang beban.











