JAKARTA | SuaraRepublik_Suara gamelan yang dipadukan dengan dentuman simfoni modern itu kini bergetar dalam ingatan.
Sabtu pagi, 26 September 2026, berita duka itu mengalun tenang namun merobek keheningan publik.
Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra, putra bungsu dari Proklamator Bung Karno dan Fatmawati, menghembuskan napas terakhirnya di usia 73 tahun di RS MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta.

Guruh bukan sekadar pewaris nama besar trah Soekarno. Di panggung sejarah Indonesia, ia menorehkan jejaknya sendiri yang membekas tebal: sebagai seorang visioner kebudayaan.
Sejak mendirikan padepokan seni Swara Maharddhika pada 1977 dan merilis eksperimen album fenomenal Guruh Gipsy (1975), Guruh membuktikan bahwa tradisi lokal tak harus berdebu di dalam museum.
Di tangannya, tarian Nusantara dan gamelan Bali meledak menjadi seni pertunjukan kolosal modern yang memukau dunia.
Kepergiannya menutup satu bab penting dalam eksplorasi musik dan panggung Indonesia.
Sosok yang pernah membawa harum nama bangsa menerusi lagu Kembalikan Baliku di Tokyo ini melangkah pergi, meninggalkan warisan berupa keberanian: keberanian untuk mencintai identitas bangsa di tengah gempuran zaman.











