JAWA BARAT|SuaraRepublik_Gemuruh dari Selat Sunda itu kembali menegaskan betapa ringkihnya peradaban manusia di hadapan alam. Erupsi Gunung Anak Krakatau memuntahkan abu vulkanik pekat yang membubung ke angkasa Banten dan Jawa Barat.
Dampaknya tak hanya meresap ke dalam paru-paru warga di pesisir Serang, tetapi juga melumpuhkan panggung penerbangan nasional.
Dari sejumlah pemberitaan media lokal, bandara Internasional Soekarno-Hatta sempat terpaksa menghentikan operasinya akibat paparan abu vulkanik yang membahayakan mesin pesawat.

Ruang tunggu yang biasanya riuh oleh langkah terburu-buru para pelancong mendadak senyap; deretan konter baggage drop-off berdiri kosong di bawah bayang-bayang NOTAM penutupan wilayah udara.
Di saat yang sama, pemukiman warga di pesisir Banten diselimuti debu tipis bersulfur. Warga bertahan di dalam rumah, sementara masker kembali menjadi pelindung utama.
Peristiwa ini menjadi pengingat dramatis bahwa anak dari sang legenda erupsi 1883 itu masih terus bernapas—dan dinamika geologis Nusantara adalah bagian tak terpisahkan dari denyut hidup kita sehari-hari.











