BERITA VIRAL | SuaraRepublik— Riuk gelombang aksi unjuk rasa Hari Tani di depan Kantor Gubernur Bengkulu yang seharusnya menjadi ruang penyampaian aspirasi masyarakat kembali diwarnai noktah hitam. Di tengah riuh teriakan massa, sebuah tontonan kontroversial beredar luas di jagat maya.
Bukan tentang bentrokan fisik, melainkan aksi olah tubuh dan mimik wajah dari seorang oknum aparat yang dinilai melukai rasa keadilan publik.
Isu ini mencuat ke permukaan setelah diunggah oleh akun Facebook Teropong Makassar pada Minggu, 27 September 2026.

Dalam unggahan yang beredar, akun tersebut membagikan foto tangkapan layar yang memperlihatkan seorang pria mengenakan kemeja taktis warna gelap berdiri di barisan pengamanan.
Alih-alih menampilkan gestur tenang dan mengayomi, pria tersebut justru mempertontonkan gerakan meledek. Dengan menjulurkan lidah serta menunjukkan ekspresi wajah jenaka ke arah massa demonstran, perilakunya dinilai merendahkan martabat peserta aksi.
Warganet bergerak cepat. Tak butuh waktu lama bagi netizen untuk membongkar identitas sosok tersebut. Pria itu disinyalir merupakan Bripka Masagus Muchamad Ginta Meiro (atau Bripka Mas Agus Ginta Meiro), seorang personel yang tercatat aktif pada Bintara Ditintelkam (Direktorat Intelijen dan Keamanan) Polda Bengkulu.
Ketika Etika dan Profesionalisme Dipertanyakan
Aksi pengamanan dalam ruang demokrasi idealnya mengedepankan pendekatan humanis dan profesional. Namun, ekspresi mengejek yang dipertontonkan di tengah situasi demonstrasi justru memicu api kemarahan netizen. Gelombang kritik tajam langsung membanjiri kolom komentar berbagai platform media sosial.
Banyak pihak menyayangkan tindakan provokatif tersebut. Sebagai personel yang bertugas di satuan intelijen, profesionalisme serta penguasaan emosi di lapangan menjadi kunci utama dalam menjaga ketertiban, bukan malah memicu potensi gesekan.
Unggahan akun Facebook Teropong Makassar pada 27 September 2026 tersebut menyuarakan keresahan masyarakat atas perilaku oknum tersebut:
“Publik pun mempertanyakan sikap aparat dalam mengawal aksi: apakah tugas pengamanan harus disertai dengan sikap yang merendahkan massa? Video dan sikap yang terekam menjadi perhatian publik. Kawal fakta, jangan biarkan ruang demokrasi diperlakukan semena-mena,” tulis narasi dalam unggahan Teropong Makassar.
Kritik publik tidak sekadar berfokus pada individu Bripka Masagus, melainkan mengarah pada evaluasi menyeluruh terhadap standar operasional prosedur (SOP) pengamanan aksi di lapangan.
Sorotan Publik dan Desakan Sanksi Disiplin
Beredarnya rekaman aksi mengejek tersebut memantik respons dan kemarahan publik yang menuntut adanya tindakan tegas dari institusi kepolisian. Polda Bengkulu kini berada di bawah sorotan tajam guna memastikan penyelidikan internal berjalan transparan.
Pihak kepolisian menyatakan akan melakukan evaluasi dan pendalaman terkait rangkaian kejadian pengamanan serta dugaan pelanggaran etika yang dilakukan oleh anggotanya.
Kasus ini menjadi cermin berharga bagi aparat penegak hukum. Di tengah dinamika demokrasi yang kian kritis, setiap tindakan, mimik, hingga gestur tubuh personel di lapangan tidak pernah lepas dari pandangan publik.
Mengawal fakta dan menjaga integritas institusi adalah kunci agar ruang demokrasi tidak tercoreng oleh aksi-aksi yang nir-etika.











