SINJAI | SuaraRepublik— Ada kehilangan yang tidak selalu datang dengan suara keras.
Di kandang-kandang warga Sinjai Utara, Sulawesi Selatan, suara unggas perlahan menghilang. Hingga 5 Oktober 2026, sebanyak 2.303 unggas dilaporkan mati akibat flu burung.
Data tersebut disampaikan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Sinjai dan diberitakan ANTARA News Makassar pada 6 Oktober 2026.

Lappa mencatat 815 kematian unggas, sementara Biringere mencapai 833 ekor.
Sebanyak 101 kepala keluarga terdampak.
Hasil pemeriksaan Balai Besar Veteriner Maros memastikan penyebab kematian adalah Avian Influenza atau flu burung. Pemeriksaan terhadap tiga sampel menggunakan metode Influenza A qRT-PCR mendeteksi material genetik virus Influenza A.
Pemerintah bergerak dengan melakukan penyemprotan disinfektan di 109 titik.Vaksinasi selektif, stamping out, penguatan biosekuriti, serta pembatasan lalu lintas unggas dari zona merah juga disiapkan.Namun ada satu hal yang penting: menurut DPKH Sinjai sebagaimana diberitakan ANTARA, hingga kini belum ada laporan penularan flu burung kepada manusia di wilayah terdampak.
Masyarakat diminta tidak panik, tetapi tetap waspada.
Di balik angka 2.303, ada peternak yang kehilangan aset.
Ada keluarga yang melihat kandangnya kosong.Dan ada kenyataan bahwa bagi sebagian masyarakat pedesaan, seekor ayam bukan sekadar unggas.
Ia adalah tabungan.
Ia adalah penghasilan.
Ia adalah bagian dari dapur yang harus tetap menyala.ANTARA melaporkan kerugian ekonomi sementara akibat kasus ini diperkirakan mencapai Rp180 juta hingga Rp200 juta.
Angka itu mungkin terlihat kecil jika dibandingkan dengan statistik ekonomi yang besar.Tetapi bagi keluarga yang kehilangan ternak satu demi satu, angka tersebut memiliki wajah.
Dan wajah itu adalah wajah kehilangan. (Red)*











