Menu ✖

Mode Gelap
 

Peristiwa

Flu Burung Hantam Sinjai, 2.303 Unggas Dikabarkan Mati


 Flu Burung Hantam Sinjai, 2.303 Unggas Dikabarkan Mati Perbesar

SINJAI | SuaraRepublik— Ada kehilangan yang tidak selalu datang dengan suara keras.

Di kandang-kandang warga Sinjai Utara, Sulawesi Selatan, suara unggas perlahan menghilang. Hingga 5 Oktober 2026, sebanyak 2.303 unggas dilaporkan mati akibat flu burung.

Data tersebut disampaikan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Sinjai dan diberitakan ANTARA News Makassar pada 6 Oktober 2026.

Baca Artikel:  Krisis Air Bersih Ganggu Layanan RSUD Massenrempulu Enrekang, Keluarga Pasien Terpaksa Cari Pasokan Mandiri
Dari jumlah tersebut, 2.297 merupakan ayam kampung dan enam ekor itik. Kematian terjadi di empat kelurahan: Balangnipa, Bongki, Lappa, dan Biringere.

Lappa mencatat 815 kematian unggas, sementara Biringere mencapai 833 ekor.

Sebanyak 101 kepala keluarga terdampak.

Hasil pemeriksaan Balai Besar Veteriner Maros memastikan penyebab kematian adalah Avian Influenza atau flu burung. Pemeriksaan terhadap tiga sampel menggunakan metode Influenza A qRT-PCR mendeteksi material genetik virus Influenza A.

Baca Artikel:  Dari Pupuk hingga Kapal, Indonesia–Rusia Membuka Babak Baru Kemitraan Strategis
Pemerintah bergerak dengan melakukan penyemprotan disinfektan di 109 titik.

Baca Artikel:  Warga Soroti Pelayanan Puskesmas Bontobangun: Pasien Antre, Petugas Diduga Asyik Ngobrol dan Tertawa
Vaksinasi selektif, stamping out, penguatan biosekuriti, serta pembatasan lalu lintas unggas dari zona merah juga disiapkan.

Namun ada satu hal yang penting: menurut DPKH Sinjai sebagaimana diberitakan ANTARA, hingga kini belum ada laporan penularan flu burung kepada manusia di wilayah terdampak.

Masyarakat diminta tidak panik, tetapi tetap waspada.

Di balik angka 2.303, ada peternak yang kehilangan aset.

Baca Artikel:  Movies On A Budget: 5 Tips From The Great Depression
Ada keluarga yang melihat kandangnya kosong.

Dan ada kenyataan bahwa bagi sebagian masyarakat pedesaan, seekor ayam bukan sekadar unggas.

Ia adalah tabungan.

Ia adalah penghasilan.

Baca Artikel:  Ten Features Of Shampoo That Make Everyone Love It.
Ia adalah bagian dari dapur yang harus tetap menyala.

ANTARA melaporkan kerugian ekonomi sementara akibat kasus ini diperkirakan mencapai Rp180 juta hingga Rp200 juta.

Baca Artikel:  Jurus Jokowi Atasi Dampak Corona Bayar Influencer Hingga Diskon Pesawat
Angka itu mungkin terlihat kecil jika dibandingkan dengan statistik ekonomi yang besar.

Tetapi bagi keluarga yang kehilangan ternak satu demi satu, angka tersebut memiliki wajah.

Dan wajah itu adalah wajah kehilangan. (Red)*

Artikel ini telah dibaca 7 kali

Baca Lainnya

Ngeri! Pemotor di Makassar Kena Busur Saat Melintas di Tengah Tawuran

7 Oktober 2026 - 13:54

Malam Mencekam di Samallangi: Rumah Rumah Pengusaha “Sultan Sidrap” Dilalap Api

30 September 2026 - 07:16

Kericuhan Tallo Memanas: Bentrokan Remaja Berujung Penembakan dan Pembakaran Pos Guard

27 September 2026 - 22:01

Detik-detik Mencekam Evakuasi Remaja Terjebak Arus Sungai Deras di Padang

27 September 2026 - 20:30

TAPAK PELANGI: Cara TK Negeri Pertiwi Bulukumba Ciptakan Ruang Bermain yang Kreatif

25 September 2026 - 05:30

Krisis Air Bersih Ganggu Layanan RSUD Massenrempulu Enrekang, Keluarga Pasien Terpaksa Cari Pasokan Mandiri

22 September 2026 - 17:35

Trending di Peristiwa
Share via
Copy link