Manggarai, SuaraRepublik — Aroma makanan, suara pengunjung, musik, dan riuh percakapan bercampur di halaman SMPK St. Stefanus Ketang, Desa Ketang, Kecamatan Lelak, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur.
Malam itu, halaman sekolah tak lagi sekadar menjadi tempat belajar. Deretan stan berdiri dengan aneka dagangan.
Para siswa sibuk menawarkan makanan dan minuman, melayani pembeli, menghitung hasil penjualan, sekaligus belajar bagaimana sebuah usaha kecil dijalankan.

Di tempat itulah perayaan 40 tahun SMPK St. Stefanus Ketang menemukan wajahnya yang berbeda.
Peringatan yang disebut Panca Windu itu bukan hanya tentang mengenang perjalanan empat dekade sebuah lembaga pendidikan.Perayaan juga menjadi kesempatan bagi para siswa untuk menunjukkan kreativitas, belajar bekerja dalam kelompok, dan mengenal dunia kewirausahaan secara langsung.
Rangkaian kegiatan berlangsung pada 10-14 Agustus 2026. Salah satu agenda yang menarik perhatian adalah basar yang digelar pada 11-12 Agustus, mulai pukul 18.30 hingga 22.00 WITA.
Malam semakin hidup ketika siswa SMPK dan SMAK St. Stefanus Ketang tampil bersama dalam pertunjukan band. Pentas seni siswa ikut menambah semarak suasana.
Orang tua, warga sekitar, pelajar, hingga jemaat Paroki St. Maria Diangkat ke Surga Rejeng datang dan menjadi bagian dari perayaan.
Bagi sekolah, keramaian itu bukan tujuan akhir.
Di balik stan-stan sederhana dan transaksi yang terjadi, ada proses belajar yang ingin ditanamkan kepada para siswa: bahwa kreativitas dapat diolah menjadi karya, dan karya dapat memiliki nilai ekonomi.
Dari Dadar Kacang Hijau hingga PopcornCelsiana Saima Danggung, siswa kelas IX G SMPK St. Stefanus Ketang, bersama kelompoknya memilih produk yang dekat dengan keseharian masyarakat.
Mereka menjual dadar kacang hijau dan teh jahe.
Di stan lain, kelompok Yohanes Saputra Dorot dari SMAN 1 Lelak menawarkan menu yang lebih beragam. Ada mi goreng, kopi Unggul Tuk, popcorn, hingga hiasan dinding.
Mereka bahkan memasang target omzet sekitar Rp500 ribu setiap malam.
Sementara itu, kelompok “Luar Biasa” dari SMAK St. Stefanus Ketang yang diwakili Karolina Bulan membawa popcorn tiga rasa, lemet, risol, dan minuman hangat.
Barang-barang yang dijual mungkin tampak sederhana. Namun, bagi para siswa, proses di belakangnya jauh lebih penting.
Mereka belajar menentukan produk, bekerja bersama, melayani konsumen, menghitung potensi pendapatan, dan bersaing secara sehat dengan kelompok lain.
Seorang peserta dari SMAN 1 Lelak menyebut kegiatan tersebut sebagai pengalaman yang menyenangkan sekaligus memberi pelajaran.“Kegiatan ini sangat seru dan ramai. Kami semua berkolaborasi untuk menumbuhkan rasa kewirausahaan dan mampu berdaya saing dengan teman-teman yang lain,” ujarnya.
Harapan yang muncul pun bukan semata-mata soal berapa banyak dagangan yang terjual.
Ada keinginan agar kegiatan tersebut menumbuhkan solidaritas dan menunjukkan bahwa anak-anak muda memiliki kemampuan untuk menghasilkan karya serta berwirausaha.
Empat Dekade dan Sebuah Ruang untuk Berefleksi
Bagi Ketua Panitia Penyelenggara Panca Windu SMPK St. Stefanus Ketang, Ardianus Daduk, usia 40 tahun memiliki makna lebih dari sekadar angka.
Empat puluh tahun merupakan perjalanan yang panjang bagi sebuah lembaga pendidikan. Di dalamnya ada pergantian generasi, perubahan zaman, dan tuntutan pendidikan yang terus bergerak.
Karena itu, momentum Panca Windu dipandang sebagai ruang untuk melihat kembali perjalanan sekolah sekaligus menatap masa depan.
“Panca windu bukan sekadar angka usia. Ini ruang refleksi untuk berinovasi dan beradaptasi dengan dunia pendidikan masa kini,” kata Ardianus.
Panitia, lanjutnya, terus membangun komunikasi dengan berbagai pihak dan pemangku kepentingan agar seluruh rangkaian kegiatan hingga puncak peringatan dapat berlangsung dengan baik.
Pesan tentang masa depan itu terasa kuat dalam basar.
Sekolah tidak hanya menjadi tempat siswa menerima pelajaran di ruang kelas. Pada malam perayaan, halaman sekolah berubah menjadi ruang belajar terbuka.
Di sana, pelajaran tentang keberanian berbicara dengan pembeli, kerja sama, kreativitas, pelayanan, hingga tanggung jawab hadir dalam bentuk yang nyata.
Ketika Talenta Anak Muda Mendapat PanggungBagi Bernadinus, salah seorang pengunjung, keramaian malam itu juga memperlihatkan sesuatu yang lebih penting: potensi anak-anak muda.
“Anak-anak kita banyak talenta yang harus ditingkatkan,” ujarnya.
Ia mengapresiasi keramahan dan pelayanan panitia selama kegiatan berlangsung.
Apresiasi itu menjadi bagian lain dari cerita Panca Windu. Sebab, perayaan sekolah bukan hanya milik siswa dan guru. Warga sekitar, orang tua, serta komunitas keagamaan turut hadir dan berinteraksi dalam suasana perayaan.
Keamanan dan ketertiban kegiatan juga mendapat perhatian. Bhabinkamtibmas Kecamatan Lelak turut menjaga situasi agar seluruh kegiatan berjalan lancar.
Pada akhirnya, Panca Windu SMPK St. Stefanus Ketang tidak berhenti pada perayaan usia 40 tahun.
Empat dekade menjadi titik untuk menengok ke belakang. Namun, aktivitas para siswa di balik stan-stan basar justru menunjukkan bagaimana sebuah sekolah sedang mencoba menyiapkan generasi untuk melangkah ke depan.
Di antara dadar kacang hijau, teh jahe, mi goreng, kopi, popcorn, pertunjukan musik, dan riuh pengunjung, ada pelajaran yang tidak tertulis di papan tulis.
Bahwa pendidikan juga dapat berlangsung ketika seorang siswa berani menawarkan dagangannya kepada orang lain.
Ketika sekelompok anak belajar menghitung hasil penjualan.
Ketika mereka berkolaborasi, berkompetisi secara sehat, lalu menyadari bahwa karya mereka mendapat apresiasi.
Puncak peringatan Panca Windu SMPK St. Stefanus Ketang dijadwalkan berlangsung pada 14 Agustus 2026.











