BULUKUMBA | SuaraRepublik — Hamparan sawah yang dahulu menjadi tumpuan harapan panen padi kini berubah rupa. Di Desa Garuntungan, Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, tanah-tanah yang sebelumnya ditanami padi mulai dibajak dan disiapkan untuk komoditas lain: porang.
Di atas tanah yang telah digemburkan, tersimpan cerita tentang pilihan yang tidak sederhana.
Bagi petani, lahan bukan sekadar ruang produksi, melainkan tempat menggantungkan hidup. Ketika hasil padi tak lagi sebanding dengan biaya dan tenaga yang dikeluarkan, mengganti komoditas menjadi pilihan yang sulit dihindari.Fenomena alih fungsi lahan sawah menjadi lahan porang ini menjadi potret perubahan orientasi pertanian di Desa Garuntungan. Di satu sisi, petani berupaya mencari komoditas yang lebih menjanjikan secara ekonomi. Di sisi lain, perubahan tersebut menyisakan pertanyaan tentang masa depan produksi pangan di wilayah Kindang.

Hasil penelusuran Suara Republik di lapangan pada Jumat (9/10/2026) mendapati sejumlah lahan telah dibajak dan siap ditanami porang. Keputusan itu, menurut petani setempat, tidak lepas dari perbandingan hasil panen yang dinilai terpaut jauh.
Hasil Padi Dinilai Tak Sebanding dengan Biaya ProduksiJoni, salah seorang petani setempat, mengungkapkan bahwa produktivitas padi di Garuntungan relatif rendah. Dalam satu petak lahan, hasil panen yang diperolehnya hanya sekitar tiga karung.
“Di sini satu petak itu hanya menghasilkan 3 karung. Per karung beratnya 90 kilo, jadi cuma 270 kilo,” ujar Joni.
Dengan total produksi sekitar 270 kilogram, pendapatan kotor petani sangat bergantung pada harga gabah saat panen. Jika menggunakan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah kering panen sebesar Rp6.500 per kilogram sebagaimana disebutkan dalam data yang menjadi dasar perhitungan artikel ini, nilai hasil panen tersebut mencapai Rp1.755.000 per petak.
Apabila gabah terjual dengan harga Rp7.000 hingga Rp9.200 per kilogram, nilai penjualannya berkisar Rp1,89 juta sampai Rp2,484 juta.
Namun, angka tersebut belum mencerminkan keuntungan bersih. Petani masih harus menanggung biaya pengolahan lahan, benih, pupuk, obat-obatan, tenaga kerja, hingga penggunaan traktor. Dengan masa tanam sekitar tiga sampai empat bulan, hasil tersebut dinilai belum cukup menarik jika dibandingkan dengan potensi komoditas alternatif.
Bagi petani, persoalannya bukan semata-mata berapa banyak gabah yang dapat dipanen. Yang lebih menentukan adalah berapa pendapatan yang tersisa setelah seluruh biaya produksi dibayarkan.
Ketika selisih antara biaya dan hasil semakin menipis, sawah pun menghadapi tekanan untuk berubah fungsi.
Porang Menawarkan Harapan Pendapatan Lebih Besar
Di tengah tantangan produksi padi, porang hadir sebagai alternatif yang dinilai lebih menjanjikan oleh sebagian petani. Tanaman penghasil umbi ini dianggap menawarkan potensi pendapatan yang lebih besar dengan pola perawatan yang berbeda dari padi.
Menurut Joni, satu petak lahan yang sama berpotensi menghasilkan sekitar dua ton umbi porang.
“Kalau porang satu petak bisa dapat 2 ton. Harga sekarang Rp10 ribu per kilo, jadi bisa Rp20 juta,” katanya.
Dengan asumsi hasil panen mencapai dua ton dan seluruh umbi terjual Rp10.000 per kilogram, nilai penjualan kotor porang dapat mencapai Rp20 juta per petak.
Secara nominal, angka tersebut jauh lebih tinggi daripada nilai penjualan 270 kilogram gabah. Akan tetapi, perbandingan ini perlu dibaca secara hati-hati karena siklus tanam, kebutuhan modal, biaya perawatan, kualitas hasil, serta kepastian harga jual kedua komoditas tidak selalu sama.
Porang umumnya membutuhkan waktu beberapa bulan hingga umbinya layak dipanen, bergantung pada varietas, kondisi lahan, dan teknik budidaya. Karena itu, potensi pendapatan yang lebih besar tidak otomatis berarti keuntungan bersih yang lebih tinggi dalam setiap kondisi.
Meski demikian, bagi petani yang menghadapi keterbatasan hasil padi, prospek nilai jual porang menjadi pertimbangan ekonomi yang kuat.
Perawatan Lebih Sederhana, Kebutuhan Air Jadi Pertimbangan
Selain mempertimbangkan nilai penjualan, petani juga melihat aspek perawatan sebagai salah satu alasan beralih ke porang.
Joni menilai tanaman tersebut tidak membutuhkan perhatian seintensif padi, terutama dalam hal pengelolaan air dan pemupukan.
“Perawatannya sangat mudah. Tidak perlu air banyak, tidak manja. Setelah tanam paling bersihkan gulma saja. Tidak seperti padi harus jaga air terus, pupuk banyak, obat hama terus,” jelasnya.
Karakter porang yang relatif toleran terhadap naungan dan dapat tumbuh pada kondisi lahan tertentu membuatnya menarik untuk dibudidayakan di sejumlah wilayah. Namun, keberhasilan panen tetap dipengaruhi oleh kesesuaian tanah, drainase, bahan tanam, pengendalian gulma, serta pengelolaan penyakit dan hama.
Porang juga bukan komoditas tanpa risiko. Petani tetap menghadapi ketidakpastian harga, kebutuhan pembeli, biaya distribusi, dan waktu tunggu hingga panen. Pengalaman naik-turunnya harga komoditas pertanian menjadi pengingat bahwa hasil yang menjanjikan hari ini belum tentu bertahan pada musim berikutnya.
Karena itu, keputusan menanam porang tidak hanya berkaitan dengan kemudahan budidaya, tetapi juga dengan kemampuan petani membaca pasar dan mengelola risiko.
Ketika Pilihan Petani Bersinggungan dengan Ketahanan PanganPerubahan lahan di Garuntungan memperlihatkan persoalan yang lebih luas daripada pergantian satu komoditas ke komoditas lain. Di balik keputusan petani, terdapat pertanyaan mendasar tentang bagaimana usaha pertanian dapat tetap menguntungkan tanpa mengorbankan keberlanjutan produksi pangan.
Bagi petani, memilih porang merupakan keputusan ekonomi yang masuk akal apabila hasil padi tidak mampu menutup biaya produksi dan memberikan pendapatan yang layak. Mereka membutuhkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, membiayai pendidikan anak, dan mempertahankan keberlangsungan usaha tani.
Namun, apabila sawah produktif terus beralih menjadi lahan komoditas nonpangan, perubahan tersebut berpotensi memengaruhi kapasitas produksi beras di tingkat lokal. Besarnya dampak itu tentu bergantung pada luas lahan yang beralih fungsi, tingkat produktivitas sawah, serta jumlah petani yang mengambil keputusan serupa.
Situasi ini menjadi tantangan bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan sektor pertanian. Upaya menjaga lahan pangan perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan petani. Perlindungan lahan semata tidak cukup apabila usaha menanam padi terus dianggap kurang menguntungkan.
Perbaikan produktivitas, akses pupuk dan sarana produksi, efisiensi pengairan, pendampingan budidaya, serta kepastian harga gabah menjadi bagian penting dari upaya mempertahankan daya tarik usaha tani padi.
Pada saat yang sama, petani membutuhkan informasi pasar dan pendampingan agar pengembangan porang dilakukan berdasarkan perhitungan yang matang, bukan sekadar mengikuti lonjakan harga sesaat.
Masa Depan Sawah Kindang Ditentukan oleh Kelayakan Ekonomi Petani
Apa yang terjadi di Garuntungan merupakan gambaran tentang persimpangan yang dihadapi petani: mempertahankan sawah dengan hasil yang dinilai terbatas atau mencoba komoditas lain yang menawarkan peluang pendapatan lebih besar.
Tanah yang sama dapat menghasilkan cerita ekonomi yang berbeda, bergantung pada tanaman yang tumbuh di atasnya. Namun, bagi petani, pilihan itu tidak pernah berhenti pada angka hasil panen. Ada biaya yang harus dibayar, risiko yang harus ditanggung, dan keluarga yang menggantungkan hidup pada setiap musim tanam.
Jika produktivitas padi tidak diperbaiki dan pendapatan petani tidak menjadi lebih layak, alih fungsi lahan ke porang berpotensi meluas. Sebaliknya, apabila usaha tani padi mampu memberikan hasil yang kompetitif, petani memiliki alasan ekonomi yang lebih kuat untuk mempertahankan sawahnya.
Di Garuntungan, perubahan itu telah terlihat pada tanah yang mulai dibajak dan disiapkan untuk porang. Kini, tantangannya bukan sekadar memilih tanaman mana yang lebih menguntungkan, melainkan memastikan bahwa petani tetap sejahtera, sementara kebutuhan pangan masyarakat tidak kehilangan pijakannya.
Sebab, sawah bukan hanya tempat padi tumbuh. Ia juga ruang tempat ketahanan pangan dan masa depan kehidupan pedesaan ditentukan. (Red)*











