BULUKUMBA, SuaraRepublik— Warga di Jalan Durian, Tanete, Kecamatan Bulukumpa, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, mengeluhkan kondisi air sumur yang berubah menjadi keruh dan berbau.
Warga menduga perubahan tersebut berkaitan dengan sistem pembuangan limbah dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bulukumpa yang berada tidak jauh dari permukiman.
Namun, hingga kini belum ada hasil uji laboratorium yang memastikan air sumur warga tercemar limbah dari dapur SPPG tersebut.
Keluhan warga terutama diarahkan pada bau menyengat yang keluar dari saluran pembuangan. Kondisi itu membuat sebagian warga khawatir limbah yang dibuang berpotensi memengaruhi sumber air yang mereka gunakan sehari-hari.

“Saya sudah mengadukan ini kepada
pemilik dapur sejak bulan Juni lalu. Bahkan keluhan ini juga sudah saya posting dan sampaikan melalui media sosial Facebook saya pada bulan Mei, setelah menemukan air sumur saya keruh dan berbau,” kata Arpan saat ditemui di sekitar lokasi pembuangan limbah, Kamis (3/9/2026).
Janji perbaikan belum dirasakan warga
Menurut Arpan, pihak pengelola sebelumnya telah berjanji memperbaiki sistem pembuangan limbah.
Namun, dia menyebut hingga kini bau dari saluran pembuangan masih tercium.
“Kami hanya dijanji akan diperbaiki. Tapi sejak itu sistem instalasi pembuangan dapur SPPG ini masih saja mengeluarkan bau di saluran parit. Kami khawatir limbah ini juga yang mencemari air sumur kami,” ujarnya.
Kekhawatiran warga muncul karena saluran pembuangan berada di sekitar permukiman yang sebagian masyarakatnya masih menggunakan sumur untuk kebutuhan rumah tangga.
Saat penelusuran di sekitar lokasi, terlihat sebuah pipa yang bermuara ke saluran terbuka.
Di saluran tersebut tampak genangan air berbusa dengan warna yang terlihat lebih gelap. Sejumlah sampah dan material lainnya juga terlihat menumpuk di sekitar area pembuangan.Kondisi tersebut belum dapat dijadikan dasar untuk memastikan telah terjadi pencemaran lingkungan. Diperlukan pemeriksaan teknis dan uji laboratorium untuk mengetahui kandungan air serta memastikan sumber pencemar.
Air sumur warga dikuras
Di lokasi, seorang warga juga terlihat tengah menguras sumur miliknya. Warga tersebut mengaku terpaksa menguras air karena kondisinya keruh dan berbau.
“Ini air sumur kami, Pak. Terpaksa kami harus kuras habis pake mesin pak karena bau,” ungkapnya.Warga berharap persoalan tersebut segera diperiksa oleh instansi terkait, terutama untuk memastikan apakah terdapat hubungan antara pembuangan limbah dapur SPPG dengan perubahan kondisi air sumur.
Sebab, perubahan warna dan bau air sumur tidak serta-merta membuktikan adanya pencemaran. Kondisi tersebut bisa disebabkan berbagai faktor sehingga diperlukan pengambilan sampel air, pemeriksaan limbah, dan pengecekan sistem instalasi pengolahan air limbah (IPAL).
Penanggung Jawab SPPG tak temui warga
Persoalan tersebut juga mendapat sorotan setelah penanggung jawab dapur SPPG Bulukumpa Tanete, Arul Aslam Ilham, disebut tidak menemui warga yang datang untuk meminta klarifikasi.
Menurut warga, pihak penanggung jawab justru meminta surat tugas sebelum memberikan kesempatan untuk bertemu.
“Lucu penanggung jawab Dapur SPPG Bulukumpa ini, masa sebagai warga yang coba mau minta klarifikasinya justru tidak bisa ditemui dan minta surat tugas.
Penanggung jawabnya juga perlu dievaluasi karena diduga melakukan pembiaran atas dugaan pengelolaan limbah yang tidak sesuai standar,” kata warga tersebut.
DLH Bulukumba Turun Mengecek Lokasi
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bulukumba, Emil Yusri, membenarkan pihaknya melakukan pengecekan ke lokasi dapur SPPG Bulukumpa Tanete.
Konfirmasi tersebut disampaikan Emil melalui pesan WhatsApp pada Kamis (3/9/2026).
“Iya,” tulis Emil saat dikonfirmasi mengenai kunjungannya ke lokasi.
Kunjungan tersebut diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk memastikan kondisi pengelolaan limbah di dapur SPPG serta mengetahui apakah instalasi pengolahan air limbah (IPAL) berfungsi sesuai ketentuan.
Namun ketika dipertanyakan soal status IPAL dapur tersebut, Kadis DLHK, Emil Yusri, tidak memberikan tanggapan.
Warga berharap pemeriksaan tidak berhenti pada pengecekan lokasi, tetapi dilanjutkan dengan langkah konkret apabila ditemukan pelanggaran atau persoalan pada sistem pengelolaan limbah.
“Jangan sampai datangji juga Pak Kadis hanya sekadar mengecek, tapi tidak mengambil sikap tegas untuk perbaikan IPAL. Kalau memang tidak berfungsi IPAL-nya, dapur ini harusnya ditutup sementara,” kata seorang warga lainnya.











