Menu ✖

Mode Gelap
 

Breaking News

Bukan Sekadar Kawal Beras, Bhabinkamtibmas Garuntungan Sisipkan Edukasi Cegah Kebakaran


 Bukan Sekadar Kawal Beras, Bhabinkamtibmas Garuntungan Sisipkan Edukasi Cegah Kebakaran Perbesar

BULUKUMBA | SuaraRepublik— Pagi baru saja menanjak ketika warga Desa Garuntungan, Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba, mulai berkumpul, Rabu (30/9/2026). Mereka datang bukan karena sebuah perkara keamanan, melainkan untuk menerima bantuan pangan yang menjadi bagian penting bagi kehidupan keluarga.

Di antara antrean warga, seorang polisi berseragam cokelat berdiri mengawasi jalannya pembagian. Ia adalah Bhabinkamtibmas Desa Garuntungan, Polsek Kindang, Polres Bulukumba, AIPTU Murzid, SH.

Hari itu, tugasnya bukan sekadar memastikan situasi tetap tertib. Ia turut memantau penyaluran 891 karung beras Bulog untuk bantuan pangan alokasi Juli, Agustus, dan September 2026.

Kehadiran Murzid di tengah warga memperlihatkan wajah lain tugas Bhabinkamtibmas: hadir ketika masyarakat membutuhkan keamanan, sekaligus menjadi ruang untuk menyampaikan pesan-pesan keselamatan.

Menurut laporan kegiatan Kapolsek Kindang kepada Kapolres Bulukumba, proses penyaluran bantuan berlangsung dalam keadaan kondusif dan terkendali.

Baca Artikel:  Modus Pura-pura Lemas, Terduga Pelaku Transaksi Narkoba di Bogor Kabur Saat Diinterogasi Warga
Namun, di balik angka 891 karung itu, ada persoalan yang lebih luas: bagaimana bantuan pemerintah dapat diterima masyarakat secara tertib, sekaligus bagaimana momentum berkumpulnya warga dimanfaatkan untuk memperkuat kesadaran menjaga lingkungan dan keamanan desa.

Kawal Bantuan, Pastikan Penyaluran Berjalan Tertib

Pengawalan terhadap pembagian bantuan pangan memiliki sejumlah tujuan praktis, mulai dari menjaga ketertiban antrean hingga memastikan proses distribusi berlangsung sesuai ketentuan.

Dalam kegiatan tersebut, AIPTU Murzid juga mengingatkan warga agar tidak membebani penerima bantuan dengan pungutan atau biaya tambahan.

Kehadiran Bhabinkamtibmas di tengah proses distribusi sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga komunikasi antara masyarakat dengan aparat di tingkat desa.

Baca Artikel:  FLH Tantang Kapolres Bulukumba Tutup Tambang Mampua-Manyampa yang Kembali Beroperasi
Bagi warga, sosok polisi yang biasanya identik dengan penanganan gangguan keamanan itu hadir dalam situasi yang jauh lebih dekat dengan kebutuhan sehari-hari: antrean bantuan pangan, percakapan dengan tetangga, serta pesan tentang keselamatan keluarga.

Dari situlah edukasi kedua dimulai.

Dari Antrean Beras ke Ancaman Kebakaran Musim Kemarau

Murzid memanfaatkan pertemuan dengan warga untuk mengingatkan potensi kebakaran yang dapat meningkat selama musim kemarau.

Desa Garuntungan dengan lingkungan yang memiliki lahan dan kebun membutuhkan kewaspadaan terhadap sumber api, terutama aktivitas pembakaran sampah maupun pembukaan lahan.

Baca Artikel:  Menembus Ruang Waktu Kebudayaan: Selamat Jalan, Sang Maestro Guruh Soekarnoputra
Warga diingatkan agar tidak membakar sampah secara sembarangan. Api kecil yang ditinggalkan tanpa pengawasan dapat merambat ke lingkungan sekitar, terutama ketika kondisi vegetasi dan lahan kering.

Pesan sederhana juga disampaikan kepada warga yang meninggalkan rumah untuk mengambil bantuan: memastikan kompor dalam keadaan mati serta memeriksa penggunaan perangkat dan instalasi listrik.

Bagi petani, Murzid mengingatkan pentingnya menghindari pembukaan lahan dengan cara membakar. Selain berpotensi menimbulkan kebakaran yang sulit dikendalikan, pembakaran lahan juga dapat menimbulkan konsekuensi hukum.

“Waspada kebakaran adalah tanggung jawab kita bersama, bukan hanya petugas pemadam,” tegas AIPTU Murzid.

Baca Artikel:  Perkuat Kedaulatan Pangan, Petani Sulsel Bentuk Jaringan Agroekologi
Pesan itu terdengar sederhana. Namun di desa yang kehidupan sehari-harinya bersentuhan langsung dengan kebun dan lahan terbuka, kewaspadaan terhadap api merupakan bagian dari keselamatan bersama.

Ketika Warga Diajak Menjadi Mata dan Telinga Lingkungan

Ada satu pesan lain yang tidak kalah penting: budaya melapor.

Murzid mengajak warga untuk lebih peka terhadap kondisi di lingkungan masing-masing. Persoalan keamanan, menurutnya, tidak selalu bermula dari peristiwa besar. Konflik antarwarga, dugaan pencurian, orang yang mencurigakan, hingga persoalan dalam penyaluran bantuan dapat diketahui lebih awal apabila masyarakat berani menyampaikan informasi.

Warga juga diingatkan untuk menjaga kebersihan lingkungan, termasuk tidak membuang sampah ke sungai dan menjaga saluran air.

Kepedulian terhadap lingkungan, dalam konteks kehidupan desa, tidak berdiri sendiri. Lingkungan yang tidak terawat dapat memunculkan persoalan lain, termasuk genangan dan banjir yang kemudian berdampak pada aktivitas masyarakat.

Karena itu, komunikasi antara Bhabinkamtibmas dan warga menjadi penting.

Murzid menyampaikan bahwa masyarakat dapat melaporkan berbagai persoalan yang terjadi di lingkungan mereka. Ia juga menekankan pentingnya menjaga kerahasiaan identitas pelapor dalam konteks laporan yang membutuhkan perlindungan.

“Kami tidak bisa bekerja sendiri tanpa bantuan masyarakat. Keamanan desa adalah milik kita bersama,” ujarnya.

Lebih dari Sekadar Seragam Polisi

Pagi di Garuntungan itu pada akhirnya bukan hanya tentang 891 karung beras.

Ada warga yang pulang membawa bantuan pangan. Ada antrean yang harus dijaga agar tetap tertib. Ada pesan tentang kompor, listrik, sampah, lahan kering, dan bahaya api. Ada pula ajakan agar masyarakat tidak diam ketika melihat sesuatu yang berpotensi mengganggu keamanan lingkungan.

Di titik itulah peran Bhabinkamtibmas terlihat lebih luas.

Polisi di tengah masyarakat tidak selalu hadir setelah sebuah persoalan terjadi. Dalam banyak kesempatan, kehadiran itu justru bermakna ketika digunakan untuk mencegah persoalan sebelum membesar—melalui komunikasi, edukasi, dan kedekatan dengan warga.

Di Desa Garuntungan, pengawalan bantuan pangan Bulog sekaligus menjadi ruang edukasi tentang kamtibmas dan pencegahan kebakaran.

Sebab keamanan sebuah desa tidak hanya dibangun dari patroli dan penegakan hukum. Ia juga tumbuh dari kesadaran warga: mematikan api sebelum meninggalkan rumah, tidak membakar lahan sembarangan, menjaga lingkungan, serta berani melapor ketika menemukan potensi persoalan.

Dan di antara tumpukan karung beras pagi itu, pesan tersebut menemukan tempatnya: bantuan untuk menguatkan kehidupan hari ini, sementara kewaspadaan menjadi bekal untuk menjaga kehidupan esok hari. (FM)*

Artikel ini telah dibaca 73 kali

Baca Lainnya

Sudah Ditegur DLHK, Limbah Dapur SPPG Bontobangun Diduga Masih Bau, Aktivis Desak BGN Bertindak

5 Oktober 2026 - 13:20

HUT TNI ke-81: Dari Perbatasan Sarawak, Syam Saksi TNI Hadir sebagai Sahabat Sejati Rakyat

5 Oktober 2026 - 08:56

Perkuat Sinergitas TNI-Polri, Kapolsek Kindang Beri Kejutan Tumpeng HUT ke-81 TNI di Koramil Gantarang

5 Oktober 2026 - 06:03

Redaktur Utama SuaraRepublik Fachrul Idris: Dirgahayu TNI ke-81, TNI Harus Tetap Prima, Dekat Rakyat dan Tegas Jaga Kedaulatan

5 Oktober 2026 - 02:23

JWI Bulukumba Ucapkan HUT TNI ke-81, Andi Parman: TNI Kebanggaan dan Pemersatu Rakyat

5 Oktober 2026 - 02:08

Laporan Dugaan Pengancaman Pakai Parang di Jeneponto Disorot, APH Didesak Segera Proses Hukum

4 Oktober 2026 - 10:11

Trending di Breaking News
Share via
Copy link